PENGALAMAN MAHASISWA TAHUN PERTAMA DENGAN TEKNOLOGI: APAKAH MEREKA BENAR-BENAR ASLI PENGGUNA DIGITAL?

Posted in 1 on January 31, 2010 by kukuhsilautama

“ AUSTRALIAN JOURNAL OF EDUCATIONAL TECHNOLOGY, 2008, 24 (1), 108-122 “

This  journal was downloaded from : http://www.ascilite.org.au/ajet/ajet.html

Translated by   : http://kukuhsilautama.wordpress.com

PENGALAMAN MAHASISWA TAHUN PERTAMA DENGAN TEKNOLOGI:
APAKAH MEREKA BENAR-BENAR ASLI PENGGUNA DIGITAL?

Gregor E. Kennedy, Terry S. Judd, Anna Churchward, Kathleen Gray
University of Melbourne, Kerri-Lee Krause
Griffith University

Makalah ini memberitakan tentang sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2006 terhadap  lebih dari 2.000 mahasiswa yang masuk pada tahun pertama di Universitas Australia. Para mahasiswa tersebut ditanya mengenai akses penggunaan dan pilihan mereka terhadap berbagai teknologi mapan dan yang baru muncul serta peralatan yang berbasis teknologi.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak mahasiswa tahun pertama sangat cerdas atau tidak gagap teknologi.
Namun, ketika seseorang  berpindah kepada teknologi dan alat-alat yang sudah tertanam saat ini (misalnya komputer, ponsel, email), maka pola-pola akses dan penggunaan berbagai teknologi lain menunjukkan keragaman. Temuan ini dibahas berdasarkan sudut pandang pernyataan  Prensky (2001a)  tentang ‘Pengguna asli Digital’ dan implikasinya dalam menggunakan teknologi untuk mendukung  pengajaran dan pembelajaran di pendidikan tinggi.

Pendahuluan

Pada tahun 2001 Marc Prensky menerbitkan makalah bersama pada angkatan mahasiswa baru: dengan judul  “pengguna asli digital”.   Dorongan dasar dari  argumen Prensky adalah bahwa kelompok mahasiswa baru yang masuk ke beberapa universitas pada dasarnya berbeda dari yang pendidik pernah lihat sebelumnya. Pengguna asli digital  telah “menghabiskan seluruh hidup mereka dikelilingi oleh dan menggunakan komputer, video game, pemutar musik digital, kamera video , ponsel, dan semua mainan dan alat-alat lain pada era digital “(Prensky, 2001a, hal 1).  Prensky
menyatakan bahwa budaya dan lingkungan digital  yang telah tumbuh telah mengubah cara mereka berpikir: “Sekarang jelas bahwa sebagai akibat dari lingkungan  dan muatan   interaksi mereka dengan hal tersebut, saat ini siswa berpikir dan memproses informasi secara fundamental berbeda dari para pendahulu mereka. “(hal. 1).  Lebih jauh lagi, dalam apa yang dapat dianggap sebagai tuntutan yang berani, Prensky menyarankan bahwa  sangat mungkin otak mahasiswa kita  telah berubah secara fisik – dan berbeda dengan kita – hal ini  adalah sebagai akibat dari bagaimana mereka dibesarkan. “(hal. 1).   Makalah ini mengambil tuntutan pertama ini  sebagai titik awal. Meskipun tidak  mengarahkan tentang  perbedaan fundamental dalam pemrosesan informasi atau neuroplastisitas, makalah ini mempertanyakan asumsi budaya dan lingkungan yang mendukung gagasan tentang  pengguna asli  Digital.

Sejak Prensky (2001a, 200b) membuat istilah tersebut, cukup banyak diskusi di seputaran pendidikan telah berpusat pada pengguna asli Digital  (juga disebut sebagai  Generasi Jaringan/ internet’, Generasi Y ‘dan’ Generasi Millenium’).   Argumen telah berubah sedikit dari yang semula diajukan oleh Prensky: budaya digital di mana pengguna asli digital yang  telah tumbuh telah mempengaruhi pilihan dan keahlian mereka dalam sejumlah bidang kunci yang terkait dengan pendidikan (lihat Oblinger, 2003, 2006; Gros, 2003; Gibbons, 2007). Sikap Prensky ini juga tetap tidak berubah selama periode ini, ia menyatakan dalam sebuah artikel terbaru”… Mahasiswa kita sedang ramai-ramainya menuntut  teknologi (baru) ini untuk dapat digunakan sebagai bagian dari pendidikan mereka, sebagian karena teknologi tersebut adalah sesuatu yang siswa harus kuasai dan gunakan dalam kehidupan mereka, dan sebagian lagi karena mereka baru menyadari betapa bergunanya jika mereka bisa. ” (Prensky, 2007; hal 41).

Pengguna asli digital dapat dikatakan lebih suka menerima informasi dengan lebih cepat; menjadi mahir dalam memproses informasi dengan cepat; lebih suka akses multi-tasking dan non-linear terhadap informasi; memiliki toleransi yang rendah untuk kuliah; lebih aktif dari pada pasif  dalam pembelajaran, dan sangat bergantung pada teknologi komunikasi untuk mengakses informasi dan untuk melaksanakan interaksi sosial dan profesional (Prensky 2001a, 2001b; Oblinger, 2003; Gros, 2003; Frand, 2000).

Prensky (2001a) tidak hanya menunjuk ketertarikan pada teknologi alami yang  seharusnya dan Pengguna asli digital yang melek informasi, tapi  dia juga mengungkapkan keprihatinan pada kekurangan melek teknologi di kalangan pendidik. Dia memberi  label pada dosen di pendidikan tinggi dengan istilah Imigran Digital ‘; orang asing di tanah digital  dari Generasi jaringan/internet, dan menganggap bahwa perbedaan antara Pengguna Asli dan para imigran sebagai “suatu masalah terbesar yang dihadapi pendidikan hari ini “(hal 2). Pilihan dan keahlian yang mencirikan Pengguna asli digital dikatakan tidak sesuai dengan ajaran saat praktek bagi imigran.  Prensky dan komentator lainnya (Oblinger, 2003; Frand, 2000) menyatakan bahwa karena perbedaan ini, pendidik perlu menyesuaikan model pengajaran mereka  supaya sesuai dengan tipe pelajar/ mahasiswa baru yang  mereka hadapi dalam angkatan mahasiswa baru ini. Tidak mengherankan, argumen ini telah memperoleh perhatian luas di kalangan pendidikan (misalnya Doherty, 2005; Rodley, 2005).
Namun, dasar pikiran yang mendasari argumen ini menjamin  pemeriksaan lebih dekat sebelum dosen dari universitas mulai merombak kurikulum dan praktek belajar mengajar. Argumen ini didasarkan pada asumsi umum bahwa siswa yang masuk ke perguruan tinggi telah memiliki kemampuan umum dan kemampuan digitan yang seragam. Diasumsikan bahwa pengalaman teknologi siswa lebih kurang sama dan bahwa sebagian besar, namun tidak semua, mahasiswa universitas telah menjadi pengguna asli digital. Bukan hanya karena dianggap bahwa mahasiswa ini akan memiliki pengalaman universal, tetapi mereka juga akan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang maju tentang teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Seperti risiko generalisasi keterampilan, pengetahuan dan pilihan yang berbasis teknologi yang dipandang lebih kompleks, di antara populasi siswa.

Pemahaman tentang pengalaman teknologi siswa yang berdasarkan bukti- merupakan suatu yang sangat penting dalam memberitahukan kebijakan pendidikan tinggi dan praktek. Pemahaman menyeluruh terhadap pengalaman teknologi mahasiswa akan memiliki implikasi yang jelas untuk bidang-bidang tertentu  seperti akses mahasiswa, pemerataan, dan transisi. Pengambilan keputusan kelembagaan yang terkait dengan manajemen dan  administrasi informasi dan teknologi komunikasi — dukungan infrastruktur teknologi, investasi sumber daya, mahasiswa dan staf pendukung — juga akan memperoleh manfaat dari bukti-bukti mengenai ‘pengalaman yang sudah ada pada mahasiswa tentang teknologi. Akhirnya, penyelidikan terhadap pengalaman teknologi siswa saat ini akan mempunyai implikasi terhadap cara-cara di mana teknologi mungkin bisa dimanfaatkan dengan cara-cara tertentu untuk meningkatkan belajar dan mengajar.

Latar belakang studi ini

Mungkin mengejutkan, beberapa penelitian empiris telah diterbitkan pada penggunaan teknologi bagi mahasiswa ‘umum dalam konteks pendidikan tinggi Australia. Kita tahu bahwa remaja dan dewasa muda di Australia adalah pemilik tinggi dan pengguna teknologi termasuk komputer, internet dan telepon genggam (NetRatings, 2005; Australia
Psychological Society, 2004).   Sebagai contoh, Biro Statistik Australia melaporkan bahwa pada tahun 2003, 99% dari anak usia 12-14 tahun menggunakan komputer di rumah atau di sekolah dan 88% mengakses Internet. Dalam konteks pendidikan tinggi, Krause, Hartley, James dan McInnes (2005) melaporkan bahwa mahasiswa tahun pertama menghabiskan 4,2 jam per minggu pada web untuk belajar dan penelitian dan hanya 3% mengatakan bahwa mereka tidak pernah menggunakan web untuk tujuan belajar. Dalam survei yang terbaru terhadap  mahasiswa teknik dan bisnis tahun pertama, Oliver dan Goerke (2007) menemukan bahwa proporsi tinggi dari siswa (lebih dari 90%) menggunakan sumber daya online untuk tujuan studi. Mereka juga mencatat pertumbuhan siswa pemakaian umum instant messaging (pesan singkat), blog dan podcasting antara 2005 dan 2007. Namun, mereka juga menemukan bahwa mayoritas siswa jarang atau tidak pernah menggunakan teknologi ini untuk studi.

Penelitian yang lebih komprehensif telah dilakukan dalam konteks pendidikan tinggi Amerika. Pada tahun 2002, Pew Internet dan Proyek American Life mendokumentasikan tingginya perbandingan mahasiswa AS yang menggunakan Internet untuk studi mereka (Jones & Madden, 2002). Studi ini merupakan salah satu yang pertama mendokumentasikan seberapa tinggi mahasiswa menggunakan internet untuk mengakses informasi dan menggunakan email berbasis web dan pesan instan untuk berkomunikasi baik dengan sesama staf dan mahasiswa. Baru-baru ini, Kvavik (2005) meneliti 4.374 mahasiswa baru dan mahasiswa senior dan menemukan bahwa mereka  pengguna email yang sering , pesan instant, pemrosesan kata, dan Internet browsing dan penggunaan ini bervariasi oleh mahasiswa jurusan. Tingkat penggunaan dan keterampilan yang tinggi tidak perlu diterjemahkan ke dalam preferensi/ pilihab untuk peningkatan penggunaan teknologi di kelas. Sementara 31% dari mahasiswa mengindikasikan bahwa mereka ingin menggunakan  teknologi secara luas didalam kelas, 26% siswa mengatakan mereka akan lebih suka dengan kelas yang ‘terbatas’ atau ‘tidak’ berteknologi.  Dua faktor yang berdampak pada pilihan/preferensi siswa adalah merupakan pengalaman yang positif dengan teknologi di dalam kelas dan penggunaan dan keterampilan sebelumnya dengan teknologi pada umumnya.

Dalam tindak lanjut penelitian ini, Caruso dan Kvavik (2005) menghadirkan  laporan yang luas dan komprehensif tentang pengalaman berteknologi lebih dari 18.000 mahasiswa universitas. Sulit untuk menilai terhadap temuan rinci seperti studi besar di makalah seperti ini, tetapi jelas dari riset mereka bahwa ICT menembus segala aspek kehidupan mahasiswa. Namun, mereka juga menemukan bahwa mahasiswa merasa nyaman dengan seperangkat inti teknologi tetapi kurang nyaman dengan teknologi khusus. Melengkapi Temuan terbaru Kvavik (Kvavik, 2005), mereka kembali menemukan bahwa tingkat penggunaan dan keterampilan tidak selalu diterjemahkan ke dalam preferensi/pilihan   penggunaan teknologi yang meningkat di kelas dan siswa  lebih suka teknologi ke tingkat yang moderat dan sebagai pelengkap dalam perkuliahan.

Dalam konteks ini, tujuan dari studi kami tentunya jelas. Yang pertama adalah untuk mendokumentasikan secara empiris tentang sejauh mana  siswa yang masuk tahun pertama pada  Universitas metropolitan Australia dapat mengakses dan menggunakan sebuah aturan teknologi dan alat berbasis teknologi. Selain lebih tertanam teknologi yang telah biasanya menjadi fokus dari jenis penyelidikan (misalnya dasar keterampilan komputer, email), studi ini juga difokuskan pada bagaimana siswa menggunakan rangkaian  teknologi yang lebih baru atau baru muncul, alat berbasis teknologi (termasuk jaringan sosial, blog, wiki, RSS, VoIP, dan Podcasting).

Tujuan kedua adalah untuk menentukan sejauh mana mahasiswa sendiri memberi laporan tentang keinginan mereka  untuk menggunakan teknologi tertentu dalam mendukung pendidikan mereka di universitas. Akhirnya, dengan memberikan asumsi yang lebih mendalam , seringnya membuat komentar-komentar tentang pengguna asli digital, siswa menggunakan teknologi tertentu dalam kehidupan sehari-hari mereka karena ingin menggunakannya dalam studi mereka, dan kami berusaha menyelidiki secara empiris tentang hal ini dengan sekelompok kecil dari teknologi yang muncul.

Karena itu, Tujuan akhir nya adalah untuk menentukan apakah banyaknya mahasiswa yang menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari ini  , karena berkaitan dengan pilihan mereka untuk menggunakannya di universitas.

Metode
Sampel

Data dikumpulkan dari tahun pertama siswa yang memulai studi mereka di Universitas Melbourne pada tahun 2006. Secara total, 2.120 siswa menyelesaikan kuesioner yang digunakan dalam studi ini yang mewakili 27,2% dari siswa tahun pertama pada Universitas tersebut. Ketika kami tertarik pada mahasiswa yang menganggap kategori ‘Pengguna Asli Digital ‘ berdasarkan usia, analisis untuk studi ini dibatasi kepada siswa yang lahir setelah 1980 (n = 1973; 25,3% dari tahun pertama siswa).

Sebagian besar siswa yang berpartisipasi dalam penelitian ini lahir antara tahun 1985 dan 1988 (terhitung 94,4% dari sampel), yang berarti bahwa mereka berusia antara 17 dan 21 ketika mereka menyelesaikan survei. Lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang menanggapi survei (62,4% perempuan; 37,5% laki-laki), sekitar sepertiga dari sampel berasal dari latar belakang tidak berbahasa Inggris (34,9% NESB; 64,8% ESB) dan sekitar seperempat dari sampel adalah mahasiswa Internasional (23,4% internasional; 75,2% mahasiswa lokal). Data dikumpulkan dari mahasiswa di sembilan dari sepuluh fakultas Universitas mengadakan kuliah pada  tahun pertama. Satu-satunya fakultas yang tidak terwakili secara independen – Fakultas Musik –  tetap diwakili  melalui sejumlah mahasiswa dengan melakukan gabungan tingkat.

Alat Ukur – kuesioner

Sebuah kuesioner empat halaman, dikembangkan secara khusus untuk studi ini, bertanya kepada  siswa tentang akses, penggunaan, keterampilan dengan, dan preferensi/pilihan untuk sebuah sebuah teknologi yang muncul dan mapan dan alat berbasis teknologi. Kuesioner terdiri dari empat bagian utama: informasi demografis (11 soal), akses ke hardware dan Internet (16 soal), penggunaan dan keterampilan dengan alat berbasis teknologi (Komputer: 10 soal; Web: 22 soal; Telepon selular: 7 soal) dan preferensi/ pilihan  untuk penggunaan alat berbasis teknologi pada perkuliahan di Universitas (34 soal). Hanya beberapa bagian soal saja yang dilaporkan dalam makalah ini,  karena keterbatasan ruang.

Prosedur

Data yang dikumpulkan selama minggu orientasi dan pada minggu pertama di Semester 1, 2006. Staf Kunci dari fakultas di Universitas (misalnya Asisten Dekan, Informasi Teknologi; Asisten Dekan, Pengajaran  dan Pembelajaran; Manajer Fakultas) yang diundang untuk berpartisipasi dalam penelitian. Sekali dalam kesepakatan prinsip  ditegakkan, hubungan dibuat dengan staf yang memiliki tanggung jawab untuk mengajar atau administrasi di disiplin ilmu tertentu (misalnya kedokteran gigi, kimia, pendidikan, psikologi, ekonomi, hukum, dll). Waktu yang tepat untuk melakukan pengumpulan data dalam orientasi mahasiswa atau pengantar sesi   disiplin dinegosiasikan dengan masing-masing kontak.  Seorang anggota tim peneliti dan satu atau dua asisten peneliti menghadiri sesi dan pertama kali  akan memberikan penjelasan singkat kepada mahasiswa tentang proyek dan memberitahu mereka bahwa partisipasi  tersebut bersifat sukarela dan rahasia. Para mahasiswa yang ikut serta kemudian menyelesaikan survei sebelum mengembalikannya. Dua puluh  sesi survei dilakukan di Universitas.

Hasil

Akses Mahasiswa  terhadap teknologi

Mahasiswa ditanya mengenai akses mereka ke berbagai teknologi perangkat keras (komputer, ponsel, Kartu memori , kamera digital, dll) dan akses mereka ke Internet.  Mahasiswa yang mengindikasikan bahwa mereka mempunyai akses “khusus untuk saya gunakan sendiri” atau “setiap kali aku membutuhkannya, meskipun berbagi bersama orang lain “digabungkan ke dalam satu kategori ( “Dibatasi”).  Demikian pula, siswa yang menunjukkan mereka “Tidak yakin” dan “Hilang / lupa” data digabungkan ke dalam satu kategori. Hasilnya disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1: Persentase siswa yang memiliki akses tanpa batas, terbatas  atau tidak ada akses kepada perangkat keras dan akses ke Internet.   ( download)


Tabel 1 menunjukkan bahwa paling umum ukuran mahasiswa yang sedang ke yang tinggi memiliki akses tidak terbatas terhadap perangkat keras yang kami tanya. Seperti yang diharapkan, proporsi / ukuran  yang sangat tingginya dari siswa memiliki akses yang tidak terbatas terhadap komputer desktop (89,5%).

Analisis tambahan menunjukkan bahwa 70,5% siswa memiliki akses ke kedua desktop dan komputer laptop sementara hanya 0,6% dari siswa (n = 11) memiliki akses terhadap keduanya. Sementara akses tidak terbatas ke ponsel adalah hampir menyeluruh (96.4%), sebagian besar
mahasiswa mengindikasikan bahwa mereka tidak memiliki akses untuk PDA (77,3%). Yang relatif tinggi Proporsi/ ukurannya, mahasiswa yang memiliki akses tidak terbatas terhadap memori stick portabel (72,5%)dan MP3 player (68,9%); Namun, teknologi ini  tidak ada tempat di mana-mana yang dekat dengan sekitar seperlima dari tubuh mahasiswa tidak memiliki akses kepada mereka. Akhirnya, dengan hampir setengah dari sampel memiliki akses tidak terbatas terhadap sebuah konsol permainan, lebih dari sepertiga responden (36,6%) tidak memiliki akses. Sehubungan dengan akses Internet, 72,9% dari siswa dilaporkan memiliki akses tidak terbatas terhadap koneksi broadband (Tabel1). Kurangdari 14% dari siswa masih mengandalkan akses Internet dial up dan hanya 1,4 % dari siswa melaporkan tidak memiliki akses internet sama sekali.
Tidak mengherankan, Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa bergantung pada komputer untuk membuat dokumen digital dan untuk tujuan studi umum. Banyak siswa yang akrab dengan membuat atau mengedit gambar digital (hanya 16,0% tidak melakukan hal ini dalam tahun lalu) dan sementara siswa tidak membuat presentasi multimedia yang sangat sering, mereka adalah tentu  akrab dengan kegiatan ini (hanya 11,1% tidak melakukan ini pada tahun lalu). Setengah siswa dalam sampel telah menggunakan komputer untuk membuat halaman web, tapi mungkin mengejutkan, setengah belum pernah melakukan ini. Sebagian besar siswa yang menggunakan komputer untuk mendengarkan musik harian atau mingguan (84,0%) dan sementara ada mahasiswa jelas ‘gamer’, 38,5% siswa tidak menggunakan konsol game dalam setahun terakhir.

Tabel 2: Persentase yang menunjukkan seberapa sering mahasiswa menggunakan teknologi berbasis komputer ( download)


Tabel 3 menunjukkan bahwa mayoritas siswa sangat bergantung pada ponsel mereka untuk memanggil dan berhubungan dengan orang, dengan 80% dari siswa berhubungan  setiap hari. Fitur yang lebih baru dari sebuah ponsel –  fitur penataannya dan mengambil dan mengirim gambar – yang jelas sering digunakan oleh bagian besar sampel, dan tidak digunakan sama sekali dengan  yang serupa tetapi bagian yang lebih kecil. Misalnya, 57,2% siswa yang menggunakan ponsel mereka untuk mengambil gambar harian atau mingguan, sementara 30,1% siswa belum pernah menggunakan telepon mereka untuk kegiatan ini. Beberapa fungsi dan fitur ponsel yang belum menikmati basis pengguna yang luas. Sebagai contoh, sebagian besar siswa belum menggunakan ponsel mereka untuk mengakses informasi berbasis web dan jasa (67,8%) atau untuk mengirim dan menerima email (75.8%).

Tabel 4: Persentase yang menunjukkan seberapa sering mahasiswa menggunakan teknologi berbasis web ( download)

Sejumlah hasil pembelajaran dapat dilihat dengan menganggap bahwa untuk masuk tahun pertama siswa berbasis web menggunakan teknologi dan peralatan (lihat Tabel 4):

Tabel 4: Persentase yang menunjukkan seberapa sering mahasiswa menggunakan teknologi berbasis web ( download)

  • Banyak siswa (63,6%) menyatakan  bahwa mereka telah mengakses sistem manajemen pembelajaran secara harian atau mingguan, tapi proporsi/ukuran yang cukup (21,8%) tidak menggunakan sistem manajemen pembelajaran pada tahun-tahun terakhir.
  • Sebagian besar mahasiswa (lebih dari 85%) telah menggunakan web untuk tujuan studi, untuk  mengumpulkan informasi umum, yang mana sebelumnya , hanya untuk mengirim dan menerima email, dan untuk instant pesan. Walaupun ada beberapa variasi dalam frekuensi yang siswa terlibat dalam kegiatan ini, sebagian besar menggunakan web untuk tujuan-tujuan secara teratur (i.e. harian atau mingguan). Olah pesan cepat jelas merupakan alternatif populer email sebagai alat komunikasi berbasis web.
  • Walaupun perangkat lunak jaringan sosial seperti My Space baru-baru ini meraih headline di media, hanya 23,8% dari mahasiswa masuk terlibat dalam jaringan sosial harian atau mingguan, sedangkan 62,9% siswa tidak pernah login.
  • Sebanyak 69,7% siswa belum berkembang dan memakai sebuah situs web pada tahun lalu.

•  Men-download file musik MP3 dan podcast, dan berbagi file-file ini jelas merupakan Aktivitas yang dinikmati secara teratur oleh sebagian besar mahasiswa (58,4% men-download MP3 harian atau mingguan). Berbagi sangat sedikit dibandingkan men-download MP3 dan ada proporsi yang signifikan dari mahasiswa yang tidak terlibat dalam kegiatan ini.

•  Sehubungan dengan teknologi komunikasi yang lebih baru seperti pesan suara melalui IP dan konferensi melalui web, sepertiga siswa telah menggunakan nya untuk batas tertentu dan dua-pertiga belum pernah menggunakannya.

•   RSS feed tampaknya berada dalam fase awal dengan tiga per empat dari mahasiswa yang memilikinya namun tidak digunakannya.

•    Sebuah budaya blog yang signifikan terlihat di kalangan mahasiswa yang masuk pada tahun pertama, telah memberikan 34,9%  yang menyatakan  bahwa mereka telah membuat blog mereka sendiri dalam tahun terakhir dan lebih banyak membaca (58,6%) dan mengomentari (43,9%) blog orang lain.

  • Sebuah proporsi/ ukuran siswa (21,2%) menunjukkan bahwa mereka memberikan kontribusi untuk blog sendiri pada setiap minggunya.

•  Wikis di sisi lain, kurang sering digunakan oleh siswa dengan 81,6% menunjukkan bahwa mereka tidak berkontribusi pada jenis alat penerbitan web sebelumnya.

Hasil yang disajikan dalam Tabel 2, 3 dan 4 menunjukkan bahwa banyak mahasiswa yang masuk tahun pertama yang disurvei dalam studi ini adalah tergolong CERDAS JARINGAN ‘dan memasukkan program tradisional dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Namun, ada kejelasan tentang wilayah  dimana penggunaan dan keakraban dengan perangkat berbasis teknologi jauh dari hal umum ataupun serupa di kalangan mahasiswa pada tahun pertama. Banyak alat-alat berbasis teknologi (27dari 39) tidak digunakan oleh sebagian besar mahasiswa (lebih dari 20%). Selain itu, untuk sejumlah kegiatan, proporsi siswa yang belum pernah menggunakan alat berbasis teknologi tertentu melebihi mereka yang telah (misalnya membuat website, membuat sebuah blog, web konferensi, menggunakan jaringan sosial perangkat lunak, menggunakan RSS feed, menggunakan telepon selular untuk mengakses web).

Menggunakan teknologi untuk membantu perkuliahan di universitas

Pertanyaan terakhir dalam survei yang disajikan kepada mahasiswa dengan daftar alat-alat berbasis teknologi dapat digunakan dalam studi universitas. Siswa diminta untuk menggunakan skala tingkatan (dari ‘Sangat Setuju’ untuk ‘Sangat tidak Setuju’) untuk menunjukkan sejauh mana mereka ingin menggunakan alat ini untuk membantu mereka studi universitas. Tabel 5 menyajikan data untuk seperangkat soal tes yang terbatas dan skala nilai telah diturunkan untuk kemudahan penafsiran.
Tiga kategori umum tanggapan dapat dilihat untuk pertanyaan ini. Pertama mencakup teknologi dan alat-alat yang memiliki dukungan yang sangat kuat. Artinya, sebagian besar mahasiswa (lebih dari 75%) ingin menggunakannya dan sangat sedikit mahasiswa (di bawah 5%) tidak ingin menggunakannya untuk membantu mereka studi universitas. Teknologi dan alat-alat dalam kategori termasuk menggunakan komputer untuk membuat dokumen digital dan multimedia presentasi, mengakses portal belajar, menggunakan web untuk mencari informasi, menggunakan pesan cepat dan chatting, menggunakan web untuk mengakses layanan berbasis universitas, dan menggunakan SMS. Kategori kedua mencakup alat dan teknologi yang ada cukup kuat tetapi tidak mendapat dukungan dukungan penuh (45-60% setuju, 11-17% tidak setuju) dan termasuk bisa men-download MP3 untuk membantu studi mereka (60,6%), menggunakan ponsel sebagai organisator pribadi (59,8%), menggunakan ponsel untuk mengakses informasi berbasis web atau jasa (45,5%) dan menggunakan telepon selular untuk mengirim atau menerima email (45,5%). Kategori tanggapan terakhir mencerminkan teknologi dan alat-alat yang ada bukan merupakan preferensi/ pilihan yang jelas, baik untuk atau terhadap yang mereka gunakan (meskipun mereka selalu mengikuti suatu pola dimana ‘netral’ adalah lebih besar daripada ’setuju’ yang lebih besar daripada ‘tidak setuju’). Teknologi dan alat-alat dalam kategori ini termasuk membuat sebuah halaman web atau situs web, menggunakan PDA, jaringan sosial perangkat lunak, konferensi web, RSS feed dan blog.

Rangkaian akhir analisis menganggap tingkatan ’sikap siswa terhadap penggunaan alat berbasis teknologi muncul dalam studi mereka, berhubungan dengan frekuensi mereka saat ini dalam menggunakan alat-alat ini. Tujuh alat yang muncul berbasis teknologi atau kegiatan yang termasuk dalam analisis ini, yaitu; menjaga/mengisi sebuah blog, download MP3, SMS di ponsel, menggunakan pesan instan, menggunakan RSS feed, berkontribusi ke wiki, dan menggunakan jaringan sosial perangkat lunak di web.

Serangkaian analisis chi-kuadrat digunakan untuk menentukan hubungan antara tingkat mana siswa menggunakan alat berbasis teknologi dan sejauh mana mereka disahkan penggunaannya dalam studi mereka di Universitas.

Enam dari tujuh tes chi-kuadrat menunjukkan pola signifikan dari suatu asosiasi yang ditunjukkan oleh soal; Menjaga/ mengisi blog (X­2(6)=78,01; p <.001)  (lihat Tabel 6).  Tabel ini menunjukkan hubungan yang kuat antara frekuensi yang digunakan blog dan keinginan untuk penggunaan di universitas.  Ini tercermin dalam  perwakilan responden dalam penggunaan harian dengan pernyataaan kategori ’setuju’ dan dengan penggunaan perbulan yang menyatakan kategori tidak setuju (dan sebaliknya, sebuah perwakilan harian / tidak setuju dan dengan bulanan / untuk kategori setujunya).

Pola umum dari hasil ini juga terlihat untuk pesan instant , jaringan sosial, texting, RSS feed  dan men-download MP3.

Tabel 6: hitungan yang Teramati dan residu standar untuk uji chi-kuadrat dari hubungan antara penggunaan sekarang dan Keinginan untuk menggunakan soal dalam Menjaga/ mengisi sebuah blog. ( download)

* P <.05

Diskusi

Studi/ penelitian terhadap mahasiswa tahun pertama tentang akses, penggunaan dan persepsi terhadap teknologi  memiliki implikasi signifikan bagi sektor pendidikan tinggi di Australia. Pada saat tumbuh minat pada sifat  tertentu yang disebut Pengguna Asli Digital, maka menjadi suatu hal penting bagi universitas-universitas Australia untuk memastikan bahwa pengambilan keputusan tentang bagaimana meningkatkan pengalaman belajar mahasiswa yang masuk melalui penggunaan teknologi baik dengan berdasarkan bukti maupun informasi empiris.

Hasil studi ini menyoroti kurangnya kesamaan pada populasi mahasiswa yang masuk pada tahun pertama berkaitan dengan teknologi dan potensi ‘kesenjangan digital’ antara mahasiswa dalam kelompok dari tingkat satu tahun. Sementara beberapa mahasiswa telah menganut teknologi dan alat-alat dari “Generasi Internet/ Jaringan”, ini tidak berarti  pengalaman keseluruhan mahasiswa. ketika seseorang  berpindah kepada teknologi dan alat-alat yang sudah tertanam saat ini (misalnya komputer, ponsel, email), maka pola-pola akses dan penggunaan berbagai teknologi lain menunjukkankeragaman.Temuan ini berlawanan dengan asumsi kunci yang mendasari gagasan Prensky (2001a) dengan para pengguna asli digital. Mengingat hal ini, revisi kurikulum yang luas untuk mengakomodasi apa yang disebut ‘pengguna asli digital’ tampaknya tidak dibenarkan dan terlebih lagi, akan sulit untuk memulai “Menyesuaikan bahan bahasa pengguna asli digital” (Prensky, 2001a;hal 4) ketika mereka begitu jelas berbicara dengan berbagai bahasa. Seperti yang disarankan dalam pendahuluan makalah ini, tingkat keragaman teknologi diungkapkan dalam makalah ini mulai diakui oleh peneliti teknologi pendidikan. Hal ini semakin diakui bahwa sementara sebagian besar mahasiswa yang  masuk ke universitas memiliki seperangkat keterampilan inti berbasis teknologi, melebihi orang-orang yang memiliki beragam keterampilan yang ada di seluruh populasi  mahasiswa (lihat Caruso & Kvavik, 2005).

Selain itu, diakui bahwa keterampilan inti berbasis teknologi tidak perlu diterjemahkan menjadi keterampilan canggih dengan teknologi lain atau melek informasi umum. Kirkwood dan Price (2005) berpendapat bahwa “beberapa mahasiswa memiliki kompetensi tinggi di berbagai aplikasi “dan bahwa” keakraban dengan penggunaan email tidak menyiratkan keahlian dalam debat dan diskusi online yang ketat “(hal. 271). Demikian pula Lorenzo, Oblinger dan Dziubam (2006) menyatakan: ” Mahasiswa hari ini tidak hanya Generasi jaringan dengan  usia tradisional, juga tidak semua mereka  memiliki kepentingan dengan ungkapan seni, dengan teknologi apapun. pendidikan tinggi terdiri dari  beragam badan mahasiswa dengan berbagai kemampuan melek informasi. “(hal. 4). Jelas kita tidak dapat mengasumsikan bahwa menjadi anggota ‘Net Generation/ Generasi jaringan ‘ adalah sama artinya dengan mengetahui cara menggunakan alat berbasis teknologi secara strategis untuk mengoptimalkan pengalaman belajar di lingkup universitas. Mengingat keragaman ini dalam satu kelompok mahasiswa tahun pertama, tantangan bagi pendidik dan administrator universitas adalah bagaimana untuk memenuhi tingkat akses mahasiswa secara meluas,  keakraban dengan, dan preferensi/pilihan mereka  terhadap berbagai teknologi dan alat berbasis teknologi.   Studi ini memberikan bukti yang cukup jelas untuk menampik istilah “satu ukuran cocok untuk semua” pendekatan integrasi ICT dalam kurikulum universitas.   Meskipun ada beberapa jawaban yang mudah di daerah ini, namun  agak melelahkan, tapi dengan mantra yang benar,  setiap integrasi teknologi harus didorong dengan pengajaran masih berlaku. Pendidik dan pengembang pendidikan dengan keahlian mereka baik dalam teknologi yang ada dan yang baru muncul perlu lebih proaktif dalam hal ini. Terhadap latar belakang dari prinsip ini, pendidik dan administrator harus melihat kepada bukti tentang apa yang mahasiswa teknologi akses dan apa yang preferensi/pilihan mereka . Dari pada  membuat asumsi tentang apa yang  mahasiswa sukai – dan mahasiswa seperti apa – universitas dan staf  harus melihat bukti-bukti untuk menginformasikan baik  berupa kebijakan maupun berupa praktik.

Satu pertimbangan penting dalam diskusi ini adalah persamaan mahasiswa.Misalnya, menentukan daerah Podcasting . Penggunaan podcast dalam pengelolaan pendidikan dapat dengan cepat memperoleh penerimaan (misalnya Lee, Chan & McLoughlin, 2006; Maag, 2006; McLoughlin, Lee & Chan, 2006) dan sedangkan data dari studi ini menunjukkan mayoritas siswa ingin dapat men-download MP3 untuk membantu studi mereka, hampir 40% dari mahasiswa  tidak yakin atau tidak ingin menggunakan bentuk teknologi ini dalam pembelajaran mereka. Selain itu, 23% dari mahasiswa tidak pernah menggunakan web untuk men-download file MP3 dan, pada saat penelitian 14% bergantung pada akses internet dial up yang akan membuat besarnya file MP3 dan membuat lambat downloadnya. Sementara studi baru-baru ini oleh Lee, Chan dan McLoughlin (2006) mengusulkan bahwa banyak siswa lebih suka mendengarkan materi pembelajaran podcast dengan  komputer mereka, keuntungan dari MP3 adalah bahwa peserta didik dapat mengaksesnya kapan saja, di mana saja melalui MP3 player portabel. Namun, satu dari lima mahasiswa dalam penelitian yang melaporkan tidak memiliki akses untuk menampilkan MP3 player (walaupun banyak ponsel sekarang memiliki kemampuan ini). Sementara gambar-gambar ini sama sekali tidak menyarankan penundaan dalam penggunaan Podcasting, mereka tetap menyatakan kebutuhan untuk memberikan dukungan yang layak kepada siswa.

Meskipun terdapat seluruh pesan yang beragam di kalangan pelajar, ada pilihan alat dan teknologi untuk menggunakan dan mengakses batas keuniversalan dan keseragaman tersebut.      Mahasiswa sangat bergantung pada komputer untuk belajar dan untuk mendengarkan musik; hampir semua memiliki ponsel untuk menelepon dan SMS orang lain; mereka secara teratur menggunakan Internet untuk pengumpulan informasi, email dan pesan instan. Selain itu mayoritas ingin menggunakan web untuk mencari informasi untuk studi universitas mereka, untuk mengakses layanan universitas dan menggunakan portal sebagai gerbang untuk bahan pembelajaran. Temuan ini didukung oleh penelitian sebelumnya (Caruso & Kvavik, 2005; Jones, 2002) dan ketika dikombinasikan temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa saat ini bergantung pada teknologi (komputer, ponsel, dan Internet) untuk komunikasi yang cepat, dan kenyamanan akses terhadap informasi dan layanan. Meskipun kami tidak dapat berharap banyak bahwa semua mahasiswa akan mahir dengan bentuk teknologi baru, mereka mungkin  membawa harapan ke universitas umum tentang akses, kenyamanan dan keterhubungan (lihat Caruso dan Kvavik’s (2005) ECAR kerangka). Hal Ini mungkin memiliki implikasi khusus terhadap layanan administrasi yang diberikan oleh universitas (baik umum layanan mahasiswa dalam belajar dan layanan mengajar).

Selain itu, meskipun terdapat keragaman pengalaman teknologi dalam sampel ini pada mahasiswa tahun pertama , tingkat penggunaan  mereka terhadap beberapa teknologi dan alat-alat tidak menunjuk kepada  sejumlah peluang yang menjanjikan untuk mengintegrasikan teknologi inovatif ke dalam kurikulum universitas. Tidak dapat diabaikan bahwa proporsi yang substansial  dari mahasiswa yang masuk adalah untuk menggunakan dan membaca blog,  mengambil foto dengan ponsel mereka, secara teratur menggunakan perangkat lunak jaringan sosial seperti MySpace, berkomunikasi melalui konferensi web, dan berbagi semua jenis file digital dengan menggunakan ponsel mereka berdua dan web. Potensi untuk memanfaatkan teknologi tersebut dan kegiatan untuk tujuan pendidikan sedang aktif dibahas dan diungkapkan secara efektif (misalnya Downes, 2004; New Media Consortium, 2006, Instone, 2005; Barat, Wright, Gabbitas & Graham, 2006; Williams & Jacobs, 2004; Bryant, 2006).

Sekumpulan analisis akhir dalam kajian ini adalah untuk menilai pertanyaan apakah siswa yang menggunakan teknologi tertentu dalam kehidupan sehari-hari mereka juga ingin menggunakannya dalam studi mereka. Data yang dilaporkan dalam makalah ini menunjukkan bahwa untuk berbagai teknologi (blog, instant messaging, texting, jaringan sosial, RSS feed dan download MP3) jawabannya tampaknya ‘Ya’. Namun demikian, batasan dalam rancangan komponen penyelidikan ini membuat kumpulan hal yang diamati terbuka untuk berbagai penjelasan.   Sebagai contoh, sangat mungkin bahwa ‘pengadopsi awal’ yang telah sangat paham teknologi untuk keperluan non-pendidikan juga mungkin cenderung melihat teknologi ini memiliki nilai pendidikan yang lebih luas. Sebaliknya, beberapa siswa mungkin tidak ukup memiliki pengalaman dengan teknologi untuk membayangkan bagaimana itu bisa berguna diterapkan.   Juga sulit mengharapkan siswa untuk memiliki keahlian menilai tentang cara terbaik menggunakan teknologi untuk tujuan pendidikan.

Kendala yang jelas terkait dengan penafsirkan temuan ini adalah bahwa kita tidak bertanya kepada mahasiswa tentang bagaimana mereka berfikir tentang dapatkah teknologi  digunakan dalam wilayah pendidikan. Sebagai contoh, teknologi yang paling banyak diakses oleh kelompok ini adalah telepon selular (96% punya satu) dan lebih dari 90 persen menggunakannya untuk ‘berhubungan’ pada setiap minggu. Mungkin tidak mengherankan kemudian, ketika diminta untuk mengikuti teknologi yang dapat membantu mereka studi, sebagian besar siswa (84%) sepakat bahwa mereka ingin mengirim atau menerima pesan teks melalui ponsel mereka. Meskipun ada desakan kuat agar menggunakan pesan teks sebagai bagian dari studi universitas, kami tidak memeriksa dengan teliti tentang  dengan cara yang bagaimana SMS dapat digunakan dalam wilayah pendidikan, baik dengan menyarankan penggunaan untuk siswa atau meminta mereka untuk menyarankan penggunaannya. Siswa mungkin memiliki gagasan tertentu tentang bagaimana telepon selular mereka dapat digunakan untuk mendukung belajar mereka (misalnya tanda teks atau kelas dibatalkan), dan ini mungkin berbeda dari staf Universitas (misalnya teks pertanyaan pra tutor).

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan keadaan tertentu di mana siswa yang ingin ‘hidup berteknologi’  harus disesuaikan sebagai ‘teknologi pembelajaran’.  Gabungan  positif antara ‘penggunaan teknologi siswa dan preferensi/pilihan mereka untuk penggunaan teknologi di Universitas  meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab mengenai apakah keterampilan siswa sehari-hari dengan teknologi akan sesuai dengan keahlian yang terkait dengan, pembelajaran berbasis teknologi yang menguntungkan. Seperti dicatat oleh sejumlah penulis (Kirkwood &Price,2005; Katz, 2005) transfer dari teknologi sosial atau  hiburan (teknologi hidup) ke teknologi pembelajaran tidak otomatis dan tidak terjamin. Isu-isu ini menunjuk banyak masalah yang belum terselesaikan  yang menjamin keberangsungan penyelidikan lebih lanjut.

Kesimpulan dan arah masa depan

Untuk proyek penelitian berkelanjutan,  masalah mendasar dan – dan tantangannya  tetap  menjadi hal yang akrab dibicarakan. Sebagai pendidik universitas kita harus terbiasa dengan karakteritik yang  berubah dan sering beragam dari kelompok mahasiswa kita. Fakta tentang siapa mahasiswa kita harus tetap merupakan faktor penting dalam memberitahukan bagaimana kita menggunakan teknologi   alat yang kita miliki untuk desain pengalaman belajar yang kaya dan menarik bagi semua mahasiswa. Ada banyak contoh tentang bagaimana pendidik dan pengembang pendidikan melakukan hal ini dengan baik, dengan berbagai jenis teknologi selama bertahun-tahun. Penelitian yang dilaporkan dalam makalah ini akan memberikan manfaat lebih mendalam, penelitian kualitatif baik dengan perspektif siswa maupun dosen pada teknologi dari universitas mencerminkan keragaman yang lebih tinggi pada pendidikan di Australia. Sebuah penelitian yang lebih besar baru-baru ini didukung oleh Institut Pendidikan dan Pengajaran Carrick pada sekolah tinggi (lihat Kennedy, Krause, Gray, Judd, Bennett, Maton, Dalgarno & Bishop, 2006; Kennedy, Dalgarno, Gray, Judd, Waycott, Bennett, Maton, Krause, Uskup, Chang, & Churchward, 2007) akan meneruskan program penelitian ini dan akan mempertimbangkan pandangan dari staf dan pelajar dari berbagai macam universitas-universitas di Australia.

Ucapan

Penelitian ini tidak akan mungkin terlaksana tanpa kerja sama staf danmahasiswa dari The University of Melbourne. Penelitian yang dilaporkan dalam makalah ini disponsori oleh Pro Vice-Chancellor (Mengajar, Belajar dan Ekuitas) di Universitas Melbourne, Profesor Susan Elliott. Kami terutama memberikan ucapan atas diskusi kami yang hangat ini kepada Dr Barney Dalgarno dan Dr Sue Bennett, atas informasi  yang bermanfaat dalam penyusunan makalah ini.

MODEL PEMBELAJARAN SIMULASI

Posted in 1 on January 4, 2010 by kukuhsilautama

Contoh Simulasi :

MODEL PEMBELAJARAN SIMULASI

PADA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

  1. A. PENDAHULUAN

Pembelajaran pada dasarnya merupakan suatu interaksi positif antara pendidik dan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya.  Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan suatu pemilihan model pembelajaran yang tepat. Ada banyak model pembelajaran yang bisa diterapkan  untuk membangun interaksi dan komunikasi yang baik antara peserta didik dan pendidik .

Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang  bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran dikelas atau yang lain  (Joyce dan Weil, 1980:1).  Model pembelajaran dapat dijadikan pola pikiran, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien utntuk mencapai tujuan pendidikannya.

Model pembelajaran Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Gladi resik merupakan salah satu contoh simulasi, yakni memperagakan proses terjadinya suatu upacara tertentu sebagai latihan untuk upacara sebenarnya supaya tidak gagal dalam waktunya nanti. Demikian juga untuk mengembangkan pemahaman dan penghayatan terhadap suatu peristiwa yang lebih banyak mengarah kepada psikomotor , maka penggunaan model pembelajaran simulasi  akan sangat bermanfaat.

Berdasarkan uraian tersebut, penulis akan membahas model pembelajaran simulasi yang merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif  untuk melatih siswa agar lebih terampil. Dalam makalah ini permasalahan yang akan dibahas adalah : (1). Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran simulasi?  (2). Bagaimana penerapan model pembelajaran simulasi ?

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui model pembelajaran simulasi dan penerapan model pembelajaran simulasi. Manfaat penulisan makalah ini yaitu setelah selesainya penulisan makalah ini diharapkan bisa bermanfaat bagi pembaca terutama guru yang ingin mengetahui dan menerapkan model pembelajaran simulasi dalam proses pembelajaran.

B. MODEL PEMBELAJARAN SIMULASI

Pengertian Model Pembelajaran Simulasi

Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.

Model pembelajaran simulasi merupakan model pembelajaran yang membuat suatu peniruan terhadap sesuatu yang nyata, terhadap keadaan sekelilingnya (state of affaris) atau proses.  Model pembelajaran ini dirancang untuk membantu siswa mengalami bermacam-macam proses dan kenyataan sosial dan untuk menguji reaksi mereka, serta untuk memperoleh konsep keterampilan pembuatan keputusan.

Model pembelajaran ini diterapkan didalam dunia pendidikan dengan tujuan mengaktifkan kemampuan yang dianalogikan dengan proses sibernetika.  Pendekatan simulasi dirancang agar mendekati kenyataan dimana gerakan yang dianggap kompleks sengaja dikontrol, misalnya, dalam proses simulasi ini dilakukan dengan menggunakan simulator.

Model pembelajaran simulasi bertujuan untuk: (1) melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari, (2) memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip, (3) melatih memecahkan masalah, (4) meningkatkan keaktifan belajar, (5) memberikan motivasi belajar kepada siswa, (6) melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok, (7) menumbuhkan daya kreatif siswa, dan (8) melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.

Karakter  Model Pembelajaran Simulasi

Menurut Joyce dan Weil (1980) dalam Udin (2001:66), model ini memiliki tahap sebagai berikut :

1.   Sintakmatik

Tahap I. Orientasi

1.  Menyediakan berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan diintegrasikan dalam proses simulasi.

2.  Menjelaskan prinsip Simulasi dan permainan.

3.  Memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi.

Tahap II. Latihan bagi peserta

1.  Membuat skenario yang berisi aturan, peranan, langkah, pencatatan, bentuk keputusan  yang harus dibuat, dan tujuan yang akan dicapai.

2.  Menugaskan para pemeran dalam simulasi

3.  Mencoba secara singkat suatu episode

Tahap III. Proses simulasi

1.  Melaksanakan aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut.

2.  Memperoleh umpan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terhadap performan si pemeran.

3.  Menjernihkan hal-hal yang miskonsepsional

4.  Melanjutkan permainan/simulasi

Tahap IV. Pemantapan dan debriefing

1.  Memberikan ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul selama simulasi.

2.  Memberikan ringkasan mengenai kesulitan-kesulitan  dan wawasan para peserta.

3.  Menganalisis proses

4.  Membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata.

5.  Menghubungkan proses simulasi dengan  isi pelajaran.

6.  Menilai dan merancang kembali simulasi.

2.    Sistem Sosial

Didalam simulasi, pengajar harus dengan sengaja memilih jenis kegiatan dan mengatur siswa dengan merancang kegiatan yang utuh dan padat mengenai sesuatu proses.  Karena itu, model ini termasuk model yang terstruktur.  Namun demikian, kerjasama antar peserta sangat diperhatikan.  Keberhasilan dari model ini tergantung pada kerjasama dan kemauan dari siswa untuk secara bersungguh-sungguh melaksanakan aktivitas ini.

3.    Prinsip reaksi/pengelolaan

Dalam model ini, pengajar berperan sebagai pemberi kemudahan atau fasilitator.  Dalam keseluruhan proses simulasi, pengajar bertugas dan bertanggung jawab atas terpeliharanya suasana belajar dengan cara menunjukkan sikap yang mendukung atau supportif dan tidak bersifat menilai atau evaluatif.  Dalam hal ini, pengajar bertugas untuk lebih dahulu mendorong pengertian dan penafsiran para siswa terhadap isi dan makna dari simulasi tersebut.

4.   Sistem Pendukung

Sarana yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan simulasi ini bervariasi, mulai dari yang paling sederhana dan murah, ke yang paling kompleks dan mahal.  Misalnya bila sarana yang dipergunakan berupa simulator elektronik, tentu hal ini memerlukan biaya yang besar.  Tapi bila sarana yang diperlukan itu hanyalah berupa kartu ataupun kelereng, tentu sangat murah

5.   Dampak Instruksional dan Pengiring

Dampak Instruksional dan Pengiring dari model ini  sebagaimana dikemukakan oleh Joyce dan Weil (1986) dalam Udin ( 2001: 69) dapat dilihat pada gambar :

Dampak Instruksional

Dampak Pengiring

Untuk kepentingan praktis, model tersebut dapat diadaptasi dalam bentuk kerangka operasional sebagai berikut:

KEGIATAN PENGAJAR LANGKAH POKOK KEGIATAN MAHASISWA
  • Sajikan berbagai topik
  • Jelaskan prinsip simulasi

Orientasi

  • Kenali topik
  • Pahami prinsip
  • Kemukakan prosedur umum
  • Pahami prosedur
  • Susunan skenario
  • Atur para pemeran

Latihan Peran

  • Pahami Skenario
  • Pilih satu peran
  • Coba peran secara singkat
  • Latihan peran
  • Pantau proses

Simulasi

Proses simulasi

  • Lakukan kegiatan skenario
  • Kelola Proses

Refleksi

  • Adakan diskusi umpan balik
  • Jernihkan hal yang  tidak jelas
  • Ulangi  Diskusi
  • Beri komentar

Pemantapan

  • Adakan diskusi balikan
    • Beri penguatan
  • Kelola diskusi balikan
  • Sadari manfaatnya

Kelebihan Dan Kelemahan Model Pembelajaran Simulasi

Wina Sanjaya (2007) menyatakan bahwa terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan dengan menggunakan simulasi sebagai metode mengajar.

Kelebihan Model pembelajaran ini di antaranya adalah:

1)   Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun menghadapi dunia kerja.

2)  Simulasi dapat mengembangkan kreativitas siswa, karena melalui simulasi siswa diberi kesempatan untuk memainkan peranan sesuai dengan topik yang disimulasikan.

3)   Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.

4)   Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.

5) Simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses permbelajaran.

Kelemahan model pembelajaran ini, di antaranya adalah:

1)   Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.

2)   Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan sebagai alat hiburan,  sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.

3)   Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering memengaruhi siswa dalam melakukan simulasi.

Penerapan Model Pembelajaran Simulasi Pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris

Satuan Pendidikan   :     SMK

Mata Pelajaran           :     Bahasa  Inggris

Kelas/Semester          :     X/ I

Alokasi Waktu            :     2 jam pelajaran (2 x 45 menit)

Standar Kompetensi :      Berkomunikasi dengan bahasa inggris setara level  novice

Kompetensi Dasar   :    Memahami ungkapan-ungkapan dasar pada interaksi sosial  untuk kepentingan kehidupan

Materi Pokok               :     Apologizing.

Indikator                     :     Berbagai ungkapan penyesalan dan  permintaan maaf serta responnya diperagakan secara tepat.

Tujuan Pembelajaran   :

Melalui model pembelajaran simulasi peserta didik  :

  1. Mengidentifikasikan ungkapan –ungkapan tentang penyesalan dengan tepat.
  2. Merespond ungkapan-ungkapan tentang penyesalan.
  3. Mempraktekkan dialog yang berhubungan dengan ungkapan penyesalan dan permintaan maaf serta responnya secara tepat.

Kegiatan Pembelajaran :

Kegiatan Pembelajaran Waktu
Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
PENDAHULUAN

Orientasi

  • Guru mengucapkan salam, Memeriksa kehadiran siswa, kebersihan dan kerapihan kelas.
  • Apersepsi :  Guru memberi pertanyaan  Apakah Peserta didik pernah bermain drama dalam bahasa inggris tentang dialog keseharian ?

Menyediakan berbagai topik dan konsep untuk proses simulasi

  • Motivasi: Guru menyajikan berbagai topik dan konsep yang menarik bagi siswa  tentang permintaan maaf (apologizing)
    • Menjawab salam guru dan siap untuk mengikuti pembelajaran.
  • Menjawab pertanyaan guru berdasarkan pengalamannya
  • Memilih dan mengenali topik yang disajikan oleh guru
10 menit
KEGIATAN INTI

Latihan bagi  peserta

Proses Simulasi

Menjelaskan prinsip simulasi melalui permainan drama

  • Menjelaskan tentang prinsip permainan drama  tentang permintaan maaf (apologizing)

Mengemukakan  gambaran teknis secara umum tentang proses / prosedur simulasi/ permainan drama

  • Menyampaikan Langkah-langkah  permainan drama tentang permintaan maaf

Menyusun skenario tentang aturan langkah dalam bentuk keputusan, untuk mencapai tujuan

  • Susun skenario/ Jalan cerita dari naskah drama permintaan maaf

Menugaskan para peserta dalam simulasi

  • Aturlah para pemeran/pemain drama tentang permintaan maaf

Mencoba latihan secara singkat satu episode naskah drama

  • Coba tampilkan drama tentang permintaan maaf secara singkat
  • Memahami prinsip simulasi/ permainan drama tentang permintaan maaf  ( apologizing)
  • Memahami secara umum prosedur/langkah-langkah simulasi/ permainan drama
  • Memahami  Skenario Jalan cerita dari naskah drama permintaan maaf
  • Memilih tugas peran yang sesuai
  • Berlatih peran
70 menit
Kegiatan Pembelajaran Waktu
Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa

Pemantapan atau debriefing

PENUTUP

Kesimpulan

Tindak lanjut

Melaksanakan aktivitas permainan drama

  • Memantau Proses simulasi/ permainan drama tentang permintaan maaf

Memperoleh umpanbalik dan evaluasi dari hasil pengamatan terhadap penampilan sipemeran.

  • Kelola proses simulasi dengan umpanbalik dan evaluasi pada penampilan pemeran

Menjernihkan hal-hal yang miskonsepsional

  • Refleksi terhadap hal-hal yang tidak sesuai konsep/ prinsip permainan drama  tentang permohonan maaf

Melanjutkan permainan/simulasi

  • Mengamati kelanjutan simulasi / permainan drama tentang permohonan maaf

Memberikan  Komentar tentang simulasi/ permainan drama dan menganalisis proses

  • Mengenai kejadian atau persepsi yang timbul selama simulasi/ permainan drama tentang permohonan maaf
  • Mengenai kesulitan dan wawasan para pemeran  tentang naskah permohonan maaf

Membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata dan mengkaitkan dengan isi pelajaran

  • Memberi penguatan atas manfaat bersimulasi

Menilai dan merancang kembali simulasi/ permainan drama

Menutup pertemuan dan mengucapkan salam.

  • Melakukan kegiatan skenario drama tentang permohonan maaf
  • Mengikut diskusi umpan balik dan evaluasi tentang penampilan pemeran
  • Jernihkan dan jelaskan hal yang tidak jelas/ tidak sesuai konsep/prinsip permainan drama tentang permohonan maaf

  • Melanjutkan permainan drama  tentang permohonan maaf
  • Menyimak dan menyampaikan informasi tentang kejadian
  • Mengungkapkan kesulitan yang dialami sendiri oleh pemeran  tentang naskah permohonan maaf
  • Pemeran/ Peserta didik menyadari manfaatnya
  • Mengevaluasi diri sendiri
  • Membalas salam.
10 menit

Analisis Kritis Penerapan  Model Pembelajaran Simulasi

Metode simulasi sebagai metode mengajar merupakan kegiatan untuk menirukan suatu perbuatan atau kegiatan. Peniruan tersebut hanyalah bersifat pura-pura, namun dapat memperjelas materi pelajaran yang besangkutan.  Bentuk simulasi dapat berupa role playing (bermain peran),sosiodrama,atau permainan.

Agar simulasi terlaksana dengan lancar,maka kepada para siswa perlu diberi petunjuk tentang bagaimana prosedur yang akan dilakukan,dan bagaimana gambaran situasi yang di inginkan. Topik hendaknya disesuakan dengan tingkat pengetahuan dan kemampuan siswa. Penentuan topik dirundingkan oleh guru dan siswa. Simulasi dilakukan oleh kelompok siswa.

  1. B. PENUTUP

Kesimpulan :

  1. Model pembelajaran simulasi sengaja dirancang oleh pendidik untuk membantu siswa mengalami bermacam-macam proses dan kenyataan sosial dan untuk menguji reaksi mereka.  Simulasi sebagai model pembelajaran merupkan penerapan dari prinsip cybernetics dalam dunia pendidikan.
  2. Model pembelajaran simulasi memiliki 4 tahapan, yaitu:   (a) Orientasi  b). Latihan Bagi peserta  c). Proses simulasi  d). Pemantapan atau debriefing.

Saran

Banyak model pembelajaran yang dapat dipergunakan guru untuk melakukan proses pembelajaran, namun untuk kegiatan pembelajaran yang dengan pokok bahasan lebih banyak kearah psikomotor, akan lebih baik menggunakan model pembelajaran simulasi ini.

Referensi

Bruce Joyce & Marsha Weil. 1996. Models of Teaching. Boston, London, Toronto, Sydney, Tokyo, Singapore: Prentice-Hall, Inc

http://id.wikipedia.org/wiki/simulasi

http://kukuhsilautama.wordpress.com

Winataputra, Udin S. 2001. Model-model pembelajaran Inovatif. Universitas Terbuka, Jakarta.

Sanjaya, Wina (2007).Stategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Bandung.Kencana

” HAPPY NEW YEAR 2010 “

Posted in 1 on December 31, 2009 by kukuhsilautama

COUNTDOWN TOGETHER…………!!!

TO   NEW YEAR  2010.

HAVE FUN WITH SUCH NICE FIREWORKS IN SYDNEY…

HAPPY NEW YEAR 2010

Profile of Indonesian Former President who had just passed away

Posted in 1 on December 31, 2009 by kukuhsilautama

ABDURRAHMAN WAHID (GUSDUR) PROFILE

Name                           :      ABDURRAHMAN WAHID
Nationality                    :      Indonesia
Venue, Date of Birth     :      Jombang, East Java, August 4, 1940
Wife                              :      Sinta Nuriyah

Children :
1.    Alissa Qotrunnada Munawaroh (P)
2.    Zannuba Arifah Chafsoh (P)
3.    Annita Hayatunnufus (P)
4.    Inayah Wulandari (P)

ADDRESS

Houses:
Jl. Warung Silah No. 10, Ciganjur
12630, South Jakarta – Indonesia


EDUCATION

1966-1970
University of Baghdad, Iraq
Faculty of Arabic Literature Adab

1964-1966
Al Azhar University, Cairo, Egypt
Faculty of Sharia (Kulliyah al-Shariah)

1959-1963

Pesantren Tambak Beras, Jombang, East Java, Indonesia

1957-1959

Pesantren Tegalrejo, Magelang, Central Java, Indonesia

POSITION

1998

Present Partai Kebangkitan Bangsa, Indonesia
DPP Chairman of Shura Council of PKB

2004

Present The Wahid Institute, Indonesia
Founder

2000

Present Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Indonesia
Mustasyar

2002

Present University Darul Ulum, Jombang, East Java, Indonesia
Rector

EXPERIENCE POSITION

1999-2001 ” PRESIDENT OF REPUBLIC OF INDONESIA”
1989-1993 Members of the People’s Consultative Assembly of Indonesia
1987-1992 Chairman of the Indonesian Ulema Council
1984-2000 Chairman of the Board Tanfidz PBNU
1980-1984 Katib Awwal PBNU
1974-1980 General Secretary Ireng Pesantren Tebu
1972-1974 Faculty of Ushuludin Universitas Hasyim Ashari, Jombang,   Dean and Lecturer


ORGANIZATION EXPERIENCE

2003 -        Moral of the National Reconciliation Movement,                            Advisory
2002 -        Victims of Violations of Human Rights Solidarity,                             Advisory
1990 -         Forum Demokrasi,    Founder and Member
1986-1987 Fairs Film Indonesia,  Jury

1982-1985 Jakarta Art Council,  Chairman

1965 Indonesian Young Learners Association in Cairo -                            United Arab Republic (Egypt),  Vice Chairman

INTERNATIONAL ACTIVITIES

2003 -       Present Non-Violence Peace Movement, Seoul, South Korea
President
2003 -       Present International Strategic Dialogue Center, University of   Netanya, Israel,  Members of the International Council along with Mikhail Gorbachev, Ehud Barak and Carl Bildt
2003 -        Present Christian International Islamic Organization for           Reconciliation and Reconstruction (IICORR), London, England
Honorary President
2002 -         Present International and Interreligious Federation for World Peace (IIFWP), New York, United States, Member of International Advisory Board
2002 -         Association of Muslim Community Leaders (AMCL), New York, United States,   President

1994 -          Present Shimon Perez Center for Peace, Tel Aviv, Israel
Founder and Member
1994-1998 World Conference on Religion and Peace (WCRP), New York, United States,  President
1994 International Dialogue Project for Area Study and Law, The Hague, Netherlands,   Advisory
1980-1983 The Aga Khan Award for Islamic Architecture
Members of the jury

AWARDS

2004 -       Anugrah Mpu Peradah, DPP Indonesian Hindu Youth                Association, Jakarta, Indonesia
2004 -       The Culture of Peace Distinguished Award 2003, International Culture of Peace Project Religions for Peace, Trento, Italy
2003 -       Global Tolerance Award, Friends of the United Nations, New York, United States
2003 -        World Peace Prize Award, World Peace Prize awarding Council (WPPAC), Seoul, South Korea
2003 -         Dare to Fail Award, Billy PS Lim, author of best-selling book “Dare to Fail”, Kuala Lumpur, Malaysia
2002 -         Gold Pin NU, members belonging Ulama, Jakarta, Indonesia.
2002 -         Degree Kanjeng Prince Aryo (KPA), Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XII, Surakarta, Central Java, Indonesia
2001 -        Public Service Award, Columbia University, New York, United States
2000 -        Ambassador of Peace, the International and Interreligious   Federation for World peace (IIFWP), New York, United States
2000 -         Paul Harris Fellow, The Rotary Foundation of Rotary International
1998 -         Man of the Year, Magazine REM, Indonesia
1993 -         Magsaysay Award, Manila, Philippines
1991 -         Islamic Missionary Award, the Government of Egypt
1990 1990 figures, Magazine Editor, Indonesia

DOCTORAL HONOR

2003 -        University Netanya, Israel
2003 -        Konkuk University, Seoul, South Korea
2003 -        Sun Moon University, Seoul, South Korea
2002 -        Soka Gakkai University, Tokyo, Japan
2000 –       Thammasat University, Bangkok, Thailand
2001 -       Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand
2000 -       Pantheon Sorborne University, Paris, France
1999 -       Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand

HOBBIES

Listening and watching performances of Wayang Kulit.
Listening to music, especially songs titled Beethoven Symphony No. 9 th, 20 th in the Mozart piano concerto, Umm Khulsum from Egypt, Janis Joplin and ballad singer Ebiet G. Ade.
Watching a football match, especially the Latin American leagues and European leagues.
Listening to audio books, especially about history and biographies.
Abdurrahman Wahid has produced several books.

Abdurrahman Wahid finally took his last breath in Cipto Mangun Kusumo Hospital, on December 30, 2009 at 18:45, suffered from complicative illness.

ABDURRAHMAN WAHID PROFILE

REST IN PEACE  GUSDUR

THE FOURTH FORMER PRESIDENT OF REPUBLIC OF INDONESIA

MAY GOD BLESS YOU AND PUT YOU INTO HIS HEAVEN.  AMIIN.

Also watch this funeral ceremony :

The fourth Former President of Indonesia Passes Away

Posted in 1 on December 30, 2009 by kukuhsilautama

INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUUN….
GOD CREATES, GOD DISPOSES
WE ARE JUST HIS CREATION…
(Human Beings)

Rest In Peace, Gusdur….
God Bless You..
Indonesian mourns in depth for your death.

Former president Abdurrahman Wahid, or Gus Dur, passed away at Cipto Mangungkusumo Hospital at 18.40 local time on Wednesday, his personal secretary said.

“Gus Dur was annouced dead at 18.40 Western Indonesia Standard Time (WIB) and now preparations are being made for him to be laid in state,” his personal secretary Sulaeman told.

He said Gus Dur began to lapse into a critical condition on Wednesday noon and all close relatives and leaders of the Nahdhatul Ulama organization were gathered at his side.

The signs of his critical condition were immediately reported to President Susilo Bambang Yudhoyono who came to the hospital at 18.30 and left the hospital half an hour later, he said

See this video : 

ICT DIGITAL BOOK : IMPLICATIONS OF THE INFORMATION AND KNOWLEDGE SOCIETY FOR EDUCATION

Posted in 1 on December 4, 2009 by kukuhsilautama

FROM :

INTERNATIONAL HANDBOOK OF INFORMATION
TECHNOLOGY IN PRIMARY AND SECONDARY EDUCATION


Ronald E. Anderson
University of Minnesota, Minnesota, MN, USA

The Information Society

The metaphor of “information society” was first used in Japan by Kohyama (1968) and it was in Japan that this metaphor was first used as a rationale for national policy (Masuda, 1981). In the 1970s, the authors of computer-related texts were not likely to refer to an “information society” but instead used words like “information age” and a “computerized society” (cf. Martin and Norman, 1970; Rothman and Mosmann, 1972). However by the late 1970s and early 1980s, the information society was mentioned so often around the world that many forgot that it was only a metaphor.
In fact by the late 1980s, “information society” had become a phrase that captured the essence of a culture inundated by information and dominated by information technology (IT). Daniel Bell’s “framework for the information society” spearheaded the movement to legitimize the information society concept (Bell, 1979). He confirmed that a majority of the jobs in the United States were information oriented in that they were structured to produce informational rather than material products. In subsequent years, as global networks became ubiquitous and a global information economy became more obvious, the information society metaphor became even more widely accepted (Webster, 2002).

The Knowledge Society

Ironically, the information society concept was undermined by the emergence of a new metaphor in the 1990s, the “knowledge society.” While the information society metaphor was associated with an “explosion” of information and information systems, the knowledge society metaphor primarily referred to economic systems where ideas or knowledge functioned as commodities. Many, if not most, people could not differentiate the two concepts because they tended to largely equate information and knowledge (Allee, 1997). Confusion about the nature of knowledge is still a problem, especially in the field of education. The educational community tends to define knowledge mostly in terms of facts or declarative knowledge, but the field of management defines it much more broadly encompassing insights, values, and other tacit cognitions (Tiwana, 2002). In this chapter, the broader definition of knowledge will be used.

Information vs. Knowledge

Increasingly, the definitional distinction of information from knowledge is that information consists of intentionally structured and formatted data, but knowledge consists of cognitive states needed to interpret and otherwise process information (cf. David and Foray, 2003). While information can generally be reproduced for minimal costs, knowledge reproduction requires training, apprenticeships, and other more costly forms of transmission. Knowledge that is difficult to codify and reproduce is called “tacit knowledge.” Tacit knowledge includes judgment, experience, insights, rules of thumb, and intuition and its retrieval depends upon motivation, attitudes, values, and the social context (cf. Polanyi, 1996; Tiwana, 2002).
A knowledge economy necessarily depends upon information as well as the intellectual capital of economic communities. Thus, a knowledge society necessarily presumes an information society, but not the other way around. In this chapter’s discussion of education, the rhetoric of the knowledge society will be used, but for the most part it will apply to the information society as well.

Knowledge Societies in Education

While economists tend to think of “knowledge society” as a global economy, other social scientists tend to think of it as a smaller level social collective. Thus, a knowledge society may exist on at least four levels: a global system, a national or cultural system, a social organization like a professional society, and a smaller community, e.g., the “Dead Poet’s Society.” A knowledge society is generally defined as an association of people with similar interests who try to make use of their combined knowledge. Of course, knowledge societies are not new, but what is new is that there has been a sharp rise in them and they are much more visible. Their rise follows digital networks that make them possible without members coexisting (do you mean residing?) in the same region and the technology makes accessing and sharing knowledge so much more feasible. On top of that is the pressure to exchange knowledge that emerges from the knowledge economy.
Loosely speaking, any educational system is a knowledge society, and that would include schools and classrooms. However, unless the educational unit devotes particular attention to knowledge-related activities, it is not particularly useful to call it a knowledge society. When an educational group invests considerable effort toward sharing and producing new knowledge, then it should be called a knowledge society. Communities of practice, typically groups of teachers that work with each other to improve their teaching, are good examples of knowledge societies, especially those that use all the tools, electronic and otherwise, to facilitate their goals (cf. Hargreaves, 2003).
“Knowledge society” in the next section refers to the (global) knowledge society.
Later sections of the chapter shift toward smaller scale knowledge societies.

Implications of the Knowledge Society for Learning Priorities

The contemporary currents of the knowledge society derive from two major forces: greater intercultural interaction made possible by global electronic networks and an economic system in which knowledge functions as a commodity. Underlying the new role of knowledge in society is, on the one hand, an explosion of information and knowledge, and on the other hand, a greatly increased value for knowledge that helps people get what they most want. Table 1 shows the major implications of the global knowledge economy for the skills and learning strategies of young people, particularly those entering the work force. For instance, making knowledge a commodity means that youth needs the skills to construct new knowledge, and project-based learning offers opportunities for learning such skills. Read more »

DOOMSDAY IN 2012. YES OR NO ?

Posted in 1 on September 30, 2009 by kukuhsilautama

Apparently, the world is going to end on December 21st, 2012. Yes, you read correctly, in some way, shape or form, the Earth (or at least a large portion of humans on the planet) will cease to exist. Stop planning your careers, don’t bother buying a house, and be sure to spend the last years of your life doing something you always wanted to do but never had the time. Now you have the time, four years of time, to enjoy yourselves before… the end.

So what is all this crazy talk? We’ve all heard these doomsday predictions before, we’re still here, and the planet is still here, why is 2012 so important? Well, the Mayan calendar stops at the end of the year 2012, churning up all sorts of religious, scientific, astrological and historic reasons why this calendar foretells the end of life as we know it. The Mayan Prophecy is gaining strength and appears to be worrying people in all areas of society. Forget Nostradamus, forget the Y2K bug, forget the credit crunch, this event is predicted to be huge and many wholeheartedly believe this is going to happen for real. Planet X could even be making a comeback.
One important thing To believe is about the question whether this doomsday will happen or not happen in 2012?
We have to come back to the Verse of Qur’an (Moslems Holy Book) which state that All the decision to the world’s fate toward the doomsday is in God’s Hand. Nobody knows. God knows.
Allah SWT is the Almighty and all-knowing.

HAPPY IED FITRI 1430 H

Posted in 1 on September 21, 2009 by kukuhsilautama

TO MOSLEM PEOPLE ALL OVER THE WORLD
I’D LIKE TO SAY HAPPY FEAST DAY..HAPPY IED FITRI 1430 H, WE WISH YOU A VERY HAPPY MOSLEM FESTIVE 143O H 2009 M

IDULFITRI CARD

” HAPPY FASTING MONTH 1430 H / 2009 M”

Posted in 1 on August 21, 2009 by kukuhsilautama

ASSALAMUALAIKUM WR.WB.
HAPPY FASTING MONTH, MY BROTHERS AND SISTERS ALL OVER THE WORLD.
IN THIS HOLY MONTH, I’D LIKE TO EXPRESS MY DEEPEST REGRETS AND WISH TO GET YOUR SINCERE FORGIVENESS FOR ALL MISTAKES MADE DURING LAST FEW YEARS.
” MAY ALLAH BLESS ALL MOSLEM “.
AMIIN.
fasting day
CLICK CITY TO DOWNLOAD AND PRINT ” IMSAKIYAH SCHEDULE” DURING FASTING MONTH 1430 HIJRIAH IN SEVERAL CITIES IN INDONESIA

ACEH , MEDAN , PADANG , JAMBI , PEKANBARU , BENGKULU , PALEMBANG , BANDARLAMPUNG , BANGKA TENGAH , PANGKAL PINANG , BATAM , JAKARTA , BOGOR , BANDUNG , CIAMIS , BANTEN , BANTUL , TEGAL , KUNINGAN , JEMBER , YOGYAKARTA , JEPARA , SAMARINDA , SALATIGA , SEMARANG , DENPASAR , MATARAM , KUPANG , PALANGKARAYA , BANJARMASIN , BALIKPAPAN , PONTIANAK , SINGARAJA , POSO , MAKASAR .

INDONESIA’S INDEPENDENCE DAY

Posted in 1 on August 17, 2009 by kukuhsilautama

Freedom….for Us..!!!!! Freedom……for Us…!!!!!
Today is August 17 2009. It’s precisely 64 years of age for Indonesian breathing Freedom’s Circumstance.
We are blessed by the Almighty God to live freely in this third millenium as a great nation. We are very proud to have such a hugest spirit of our heroes fighting against the imperialist. Indonesia’s Independence day was formerly proclaimed by Mr. Soekarno and Mr.Moh.Hatta, later on appointed The First President and Vice President of Republic of Indonesia.
logo-resmi-hut-ri-ke-64

As the real Indonesian,We must do something for celebrating this everlasting freedom in our surrounding…
What to prepare then ?

Leading up to the big event

Preparations for the patriotic celebrations begin weeks before the 17th of August. High-rise office buildings around town sprout large banners or lighted designs, fences around the presidential palace and many government offices are draped in red and white bunting, malls decorate in red and white and hold Independence Day sales, the city administration spends big bucks to create a unique series of red and white lighted decorations down the length of Jl. Thamrin and Jl. Sudirman, housing complexes repaint their main gate decorated with independence themes. The whole town takes on a red and white hue and the words Dirgahayu RI (Long live Indonesia!) can be seen everywhere.
Political observers, social scientists and those with opinions write ‘Insights’ in the newspapers and magazines on the country’s progress since independence and challenges for the future as well as discussions on what the founding fathers would think of various conditions in society today.
Neighborhood associations often coordinate special activities for the neighborhood children and may request donations from homeowners to sponsor games and prizes for the children. Schools hold contests to see which class can decorate their room in the most patriotic manner as well as holding games and races amongst classes.
TV shows commemorating the struggle for independence are aired for weeks before and after independence day. All-star musical extravaganzas are held in various venues and broadcast throughout the archipelago.
Neighborhood associations, or your local RT (neighborhood head), may organize a clean up of the area or kerja bakti. Drains are swept, weeds are cut back, debris is burned and public areas are repainted. Women are asked to provide snacks to the hard working men. Homeowners may be requested by the RT to fly the Indonesian flag for a set period of time before and after the holiday. Businesses may be asked to make contributions to fund an extravaganza of fireworks and entertainment in Monas Square as well as for other more localized festivities. In years past, neighborhood heads would ask homeowners to paint their homes, at least the front, in preparation for the big day.
The President delivers the State of the Nation Address to the members of the House of Representatives, diplomatic corps and honored guests on the day before Independence Day.

On August 17th


The most solemn ceremony is the flag hoisting at the National Palace, televised live. Full of pomp and circumstance and conducted basically the same way each year, it is a spectacle of the greatest respect and honor for the flag and the Republic. The ceremonies are led by the President and Vice President, and attended by the cabinet, military brass, family members of the current and preceding president, diplomatic corps and honored guests. High School students from throughout the archipelago are chosen for their marching skills and put on a show of intricate steps and turns to hoist the flag. The military is out with all its brass in high shine, standing smartly at attention in their dress uniforms.

While the solemn ceremonies are taking place, neighborhoods gear up for fun and games for the kids. Krupuk (shrimp chips) eating contests, bike decorating, games, races and lots of fun fill the day. The women are busy in cooking contests to see who can make the biggest krupuk or the most delicious nasi tumpeng.


One of the most popular games is the Panjat Pinang. An Areca palm trunk is erected in a public area and well greased with a mixture of clay and oil. At the top are hung various prizes like bikes and TVs. Whoever makes it to the top wins the prize. Needless to say there are a lot of slippery, muddy kids and grownups alike climbing over each other and struggling to reach the goal. A good time is had by all, especially the crowd watching the gaiety.

Following the big day

In the past (before the 1997 monetary crisis) the government held a spectacular Independence Day parade on the Sunday after Independence Day; a spectacular parade of floats and marching bands which begins near the National Monument and travels down Jl. Thamrin and Jl. Sudirman. The floats are sponsored by government institutions, state companies, private firms and foundations. The artistic skills which won Indonesia acclaim in Tournament of Roses parades in years past are enjoyed by the tens of thousands of Jakartans who show up to enjoy the spectacle.

Joining In

As a foreigner, your participation in the festivities would be welcomed by most Indonesians. You could sponsor a picnic for your employees and their families, put on a children’s activities day at the factory, or help fund the neighborhood activities near your office or plant. Just contact the local RT to find out what they have planned and how you can help. As an individual you are always welcome to join in the neighborhood activities. Join in the fun … and spend time getting to know your neighbors!

Don’t forget to follow the CARNAVAL..!!
WHERE’S THE REAL YOU, INDONESIAN ?